Kamis, 13 Juni 2019

بسم الله الر حمن الر حيم
الحمد لله رب العا لمين
الهم صل وسلم وبارك عل محمد وعل اله محمد



~Imam Ibnul Qayyim~

=>kehidupan manusia berputar pada tiga poros,
Syukur -Sabar-Istighfar

*kita mendapat curahan nikmat yg tak terhingga dari Allah, ini lah yang mengharuskan kita untuk bersyukur meski kuantitasnya masih jauh dari cukup. 
Syukur ini memiliki tiga rukun, 1)mengakui dalam hati bahwa nikmat itu dari Allah. 2)mengucapkan dengan lisan. 3)menggunakan kenikmatan tersebut untuk menggapai ridho Allah, karna Dialah yang memberikannya.

*atau boleh jadi Allah mengujinya dengan berbagai ujian, dan kewajiban kita sebagai  hamba saat itu ialah bersabar. Sabar itu sendiri  memiliki tiga defenisi : 1)menahan hati dari perasaan marah, kesal, dan dongkol terhadap ketentuan Allah. 2)menahan lisan dari berkeluh kesah dan menggerutu akan takdir Allah. 3)menahan anggota badan dari bermaksiat dan perbuatan lainnya yg menunjukkan sikap "tidak terima" akan keputusan Allah.
Allah menguji hambaNya bukan karena Dia ingin membinasakan si hamba namun untuk mengetes sejauh mana penghambaan kita terhadapNya.
Allah berjanji akan mencukupi hambaNya, "Bukankah Allah lah yg mencukupi (segala kebutuhan) hambaNya?" (Az-zumar:36) 
Tingkat kecukupan tersebut tentu lah berbanding lurus dengan tingkat penghambaan masing masing hamba.

*begitu ia melakukan dosa, segera lah ia memohon ampun(istighfar) kepada Allah. ini merupakan solusi luar biasa apabila seorang hamba terjerumus dalam dosa.
Ibnul Qayyim lantas menukil ucapan Syaikhul Islam Ibnu Isma'il Al Harawi bahwa para salaf mengatakan bahwa "seseorang mungkin melakukan suatu dosa yang karena nya ia masuk Jannah, dan ia mungkin melakukan ketaatan yg karenanya ia masuk Neraka. Bagaimana bisa begitu?
Bila Allah menghendaki kebaikan atas seseorang, Allah akan menjadikannya terjerumus dalam suatu dosa (padahal sebelumnya ia seorang yang shalih dan gemar beramal shalih). Dosa tersebut akan selalu terbayang di depan matanya, mengusik jiwanya, mengganggu tidurnya. Ia takut bahwa semua keshalihannya tadi akan sia-sia karena dosa tersebut, hingga dengan demikian ia menjadi takluk di hadapan Allah, takut kepada-Nya, sehingga  bertaubat kepada-Nya. Nah, akibat dosa yang satu tadi, ia terhindar dari penyakit ‘ujub (kagum) terhadap keshalihannya selama ini, yang boleh jadi akan membinasakan dirinya, dan tersebab itulah ia akan masuk JannahNya.
Namun sebaliknya orang yang melakukan suatu amalan besar, ia bisa jadi akan celaka akibat amalnya tersebut. Yakni bila ia merasa kagum dengan dirinya yang bisa beramal ‘shalih’ seperti itu. Nah, kekaguman ini akan membatalkan amalannya dan menjadikannya ‘lupa diri’. Maka bila Allah tidak mengujinya dengan suatu dosa yang mendorongnya untuk taubat, niscaya orang ini akan celaka dan masuk Neraka.
Demikian kurang lebih penuturan beliau (Ibnu Qayyim) dalm kitab Al waabilush Shayyib, semoga kita terinspirasi dengan tulisan yang bersahaja ini.

  • @MuslimUmmah